Elnino '09

"Satu bumi milik bersama, tanpa batas tanpa penindasan"

Senin, 30 Mei 2011

Proses Terbentuknya Bulan 4 Miliar Tahun yang Lalu

Teori ‘Giant Impact’ merupakan hipotesa bagaimana proses terbentuknya bulan. Ilmuwan berteori, Bulan terbentuk akibat bergabungnya serpihan-serpihan pecahan Bumi yang ketika itu masih muda bertabrakan dengan benda langit berukuran sebesar planet Mars.


http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/05/27/112005_giant-impact--teori-bagaimana-terbentuknya-bulan_300_225.jpg


Salah satu bukti yang mendukung hipotesa ini adalah contoh-contoh bebatuan yang diambil para astronot saat mengunjungi Bulan. Dari bebatuan itu, terindikasi bahwa permukaan Bulan sebelumnya berbentuk cair dan kemungkinan ia memiliki inti kecil dari besi dengan kepadatan yang lebih rendah dibanding Bumi.

Adapun benda langit yang menghantam Bumi disebut sebagai Theia, diambil dari nama dewi bangsa Yunani, yang merupakan ibu dari Selene, dewi Bulan.

Menurut teori Giant Impact, Theia terbentuk bersama dengan planet-planet lainnay di tata surya sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu. Ia mengitari Matahari dalam orbit yang kurang lebih sama dengan Bumi sekitar 60 derajat di depan atau di belakang Bumi.

Stabilitasnya dalam mengitari Bumi kemudian terganggu karena Theia kemudian tumbuh melampaui batas maksimal 10 persen massa planet Bumi. Akibatnya, gaya gravitasi membuat Theia meninggalkan posisi orbitnya dan mendekati Bumi lalu saling bertabrakan.

Menurut para astronom, tabrakan antara Bumi dan Theia terjadi sekitar 4,53 miliar tahun lalu, atau sekitar 30 sampai 50 juta tahun setelah terbentuknya sistem tata surya. Akan tetapi, dari bukti-bukti terakhir, terindikasi bahwa tabrakan itu terjadi lebih lambat, yakni 4,48 miliar tahun lalu. 
Berikut ini video ilustrasinya :





Zaman Glasial-Interglasial dan Pengaruhnya Terhadap Persebaran Manusia


Definisi Zaman Glasial dan Interglasial
Zaman Glasial adalah waktu suhu menurun dalam jangka masa yang lama dalam iklim bumi, menyebabkan peningkatan dalam keluasan es di kawasan kutub dan gletser gunung. Sisa lautan yang ada tidak tertutupi es namun memiliki suhu tertinggi rata-rata sekitar 4o C. Secara geologis, zaman es sering digunakan untuk merujuk kepada waktu lapisan es di belahan bumi utara dan selatan; dengan denifisi ini kita masih dalam zaman es. Menurut para ahli zaman ini telah terjadi berulang kali dengan diselingi masa-masa yang lebih hangat yang disebut masa interglasial. Pada zaman es air laut membeku sehingga permukaan air laut turun sampai 100 meter dan garis pantai pun menjorok ke laut kemungkinan ada beberapa pulau menyatu saat zaman es tersebut.
Zaman glasial dimulai dengan adanya Zaman Pleistosen yang berlangsung sekitar 600.000 tahun lalu. Zaman pleistosen ditandai dengan adanya siklus glasialisasi, yaitu mendinginnya iklim bumi dan meluasnya lapisan es tebal di kedua kutub. (Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa zaman es juga terjadi pada masa-masa jauh sebelum Zaman Pleistocenini). Terdapat bukti-bukti terjadinya sekurang-kurangnya 8 kali zaman es besar (empat di antaranya yang ekstrim, termasuk zaman es yang terakhir), diselingi zaman “antar-es” (interglacial) yang iklimnya relatif panas.
Pada setiap zaman es, terjadi siklus yaitu air lautan mendingin lalu penguapan air menjadi berkurang. Hal itu lalu mengakibatkan jumlah awan berkurang dan curah hujan menurun sehingga tumbuhan berkurang dan gurun bertambah luas. Lapisan es di kutub bertambah tebal dan meluas ke daerah iklim sedang, sampai sepertiga permukaan bumi tertutup es. Karena banyak air berubah menjadi es, maka permakaan air laut surut, di beberapa tempat sampai lebih 100 meter.
Hal yang sebaiknya terjaadi pada zaman Interglacial: iklim menjadi panas -> es kutub dan es gunung mencair -> hujan bertambah -> tumbuhan bertnabah. Juga permukaan laut naik sampai lebih dari 100 meter; laut “menyerbu” jauh ke daratan. Kecepatan naiknya permukaan laut ini rata-rata 5 cm/ tahun.
Sementara itu di wilayah-wilayah bekas es, karena beban es itu tidak ada lagi, permukaan tanah naik ke atas berkat elastisitas kulit bumi. Kenaikan tanah ini ada yang lebih cepat dari naiknya permukaan laut, sehingga sedimen-sedimen laut ditemukan jauh di atas laut. Ini adalah proses “vaulting” yaitu pergeseran tektonik lempeng-lempeng kulit bumi, yang bisa mengangkat dasar laut mencuat jauh ke atas.
PUNAHNYA MEGAFAUNA PADA AKHIR ZAMAN ES BESAR
Akhir zaman es besar ditandai dengan punahnya banyak genus hewan menyusui besar(termasuk mammoth, mastodon, berang-berang raksasa dsb). Ini terjadi berangsur-angsur selama 2000 tahun[kalau menurut skala waktu geologis, ini termasuk cepat], dengan pusatnya pada 11 ribu tahun lalu ( 9000 SM). Hewan menyusui kecil, reptilia, dan amfibia tidak ikut punah.
Dua teori dikemukakan oleh para pakar mengenai sebab-musabab kepunahan hewan besar itu: (1) teori perburuan berlebiah oleh manusia dan (2) teori perubahan iklim yang ekstrim. Masing-masing teori didukung oleh sejumlah data palaentologis, arkeologis, maupun geologis. Mungkin juga terjadi kedua faktor itu terjadi bersama-sama dengan proporsi yagn berbeda-beda di berbagai wilayah. Tentang teori perubahan iklim yang drastis, pertanyaannya adalah faktor-faktor apa yang menjadi penyebabnya.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN IKLIM
Di Ensikopedia Britannica disebutkan, selama lebih dari saut abad para ilmuwan memperdebatkan terjadinya siklus iklim pada Zaman Pleistosen dan sebab-musababnya. Kata EB, ”many theories have been proposed to account for the [pleistocene] glaciation (pembentukan es), but most are deficient in view of _current_scientific knowledge about Pleistocene climates. One early theory of astronomical cycles, seems, to explain much of the climatic cycles.” Kemudian EB merasa perlu untuk bercerita panjang lebar mengenai teori astronomis itu.
Peredaran bumi mengelilingi matahari (revolusi) diketahui mempunyai beberapa parameter yang berubah secara siklis:
(1) Eksentritas orbit bumi, di mana sumbu eksentriknya bergeser dengan siklus 100 ribu tahun jadi tiap 100 ribu tahun sekali ada masa ketika musim dingin yang ekstra dingin di utara bertepatan dengan titik paling jauh bumi dari matahari à hasilnya adalah musim dingin yang ekstra dingin
(2) Kemiringan sumbu bumi dari bidang orbit bumi yang juga mempunyai siklus 41 ribu tahun;
(3) Pergeseran sumbu bumi (presesi) yang mempunyai siklus 19 ribu dan 23 ribu tahun.
Dari ketiga parameter ini, para pakar dapat menghitun grafik radiasi panas yang diterima bumi untuk setiap garis lintang, dan setiap musim, selama 600 ribu tahun terakhir. Kemudian, pada tahun 1976 disajikan laporan hasil penelitian yang membuktikan siklus astronomis itu dengan kehisupan di bumi. Yakni dengan melakukan : 1) ‘Dating’ pada tingkat-tingkat dasar laut di Barbados dan Papua; dan yang lebih penting 2) Penetapan kronologi pembentukan es (Glasiasi) sebagaimana disimpulkan dari pengukuran isotop O2 kelautan. Analisis spectral dari isotop O2 yang diambil dari sampel-sampel laut dalam memperlihatkan adanya variasi iklim yang siklusnya mirip dengan siklus astronomis di atas : 100.000 tahun, 43.000 tahun, 24.000 dan 19.000 tahun.
Penyebab terjadinya zaman es salah satunya adalah akibat terjadinya proses pendinginan aerosol yang sering menimpa planet bumi. Letusan gunung Krakatau adalah salah satu contohnya dalam skala kecil sedangkan salah satu teori kepunahan dinosaurus (tumbukan Chicxulub) adalah salah satu contoh skala besar.
Zaman Es Terakhir
Dari segi pandang sudut di atas, zaman es terakhir dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada awal kala Holocene (akhir Pleistocene). Proses pelelehan es di zaman ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.
Zaman Es di Nusantara
Ketika zaman es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang, karena banyak air yang membeku di daerah kutub. Kala itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat tergabung dengan daratan Asia Tenggara. Sementara itu pulau Papua juga tergabung dengan benua Australia. Setelah peristiwa pelelehan es tersebut, gelombang migrasi manusia ke Nusantara mulai terjadi.
Bukti adanya zaman es
Bukti geologis zaman es bermacam – macam, termasuk cacat pada batuan, glacial moraines, drumlin, potongan lembah, kemiringan batuan dan juga batuan glacial. Glacial suksesi cenderung mengahapus dan mengubah bukti geologisnya, membuat jadi lebih susah untuk diperkirakan. Lebih jauh lagi, bukti ini masih terlalu susah untuk di perkirakan waktunya secara tepat; teori – teori mengasumsikan bahwa jaman glacial lebih pendek dibanding interglacial. Adanya batuan sedimen dan es menunjukan kenyataan sebenarnya: jaman glacial itu panjang dan interglacial itu pendek.
Bukti Khemis sebagian besar terdiri dari variasi rasio isotop pada fosil yang terdapat pada sedimen dan batuan sedimen dan batuan sedimen laut. Untuk periode glacial yang paling baru inti es menyediakan proxy iklim dari es, dan sample atmosfer dari yang terdapat pada gelembung di udara. Karena air mengandung isotop lebih berat mempunya titik uap yang lebih tinggi, maka prporsinya berkurang dengan kondisi yang lebih dingin. Ini mengakibatkan catatan tempratur dapat tersusun. Walaupun begitu, bukti ini dapat ditemukan pada factor lain yang tercatat oleh rasio isotop.
Bukti Paleontologis terdiri dari perubahan – perubahan pada persebaran geografis fosil. Pada saat periode glacial organisme bersuhu dingin tersebar pada keleluasaan lebih rendah, dan organism yang menyukai kondisi lebih hangat menjadi punah. Bukti ini juga cukup sulit untuk di interpretasikan karena membutuhkan (1) sedimen yang terletak selama periode waktu yang lama, (2) organism kuno yang telah bertahan selama beberapa juta tahun tanpa perubahan dan suhu layaknya mudah diketahui; dan (3) penemuan fosil yang relevan, yang membutuhkan keberuntungan tinggi.
Walaupun dengan kesusahan seperti ini, analisis terhadap batangan es dan inti sedimen laut menunujukan periode glacial dan interglacial selama beberapa juta tahun lalu. Ini semua juga memastikan hubungan antar jaman es dan fenomena lempengan antar benua seperti glacial moraines, drumlin dan batuan glacial. Maka itu pergerakan lempeng benua telah diterima sebagai bukti yang baik untuk jaman es awal ketika ditemukan di lembaran yang terbentuk jauh sebelum batangan es dan laut ada.
Akibat Peristiwa Glasial dan Interglasial
Menurut kelompok kami zaman glasial dan zaman interglasial dapat menyebabkan persebaran flora dan fauna di dunia terutama di Indonesia. Zaman glasial terjadi dahulu kala. Zaman glasial adalah zaman dimana suhu di permukaan bumi menjadi menurun dan mengakibatkan seluruh permukaan bumi tertutupi es. Saat bumi mengalami zaman es atau glasial ini laut-laut berubah menjadi es dan mengakibatkan menyambungnya daratan-daratan serta benua-benua. Di Indonesia juga mengalami hal yang sama dengan daratan yang lainnya. Pada saat itu mengakibatkan paparan sunda yang dahulu berupa sebuah lautan yang memisahkan Indonesia dengan asia menjadi berupa sebuah es yang menghubungkan asia dengan Indonesia bagian barat. Selain itu Bagian Indonesia timur juga tersambung dengan benua yang lain yaitu Australia dan di sebut dengan daratan sahul.
Saat Indonesia bagian barat tersambung dengan Asia maka binatang-binatang yang berada di Asia bisa dengan mudah bermigrasi ke Indonesia bagin barat. Dan saat Indonesia bagian timur tersambung dengan Australia binatang yang tinggal di Australia dapat bermigrasi dengan bebas tanpa harus menyebrang melewati lautan yang memisahkan Indonesia dengan Australia. Maka dari itulah binatang yang hidup di Asia mempunyai kemiripan dengan binatang yang tinggal di Indonesia bagian barat, seperti badak jawa, harimau jawa dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan hewan yang berada di Indonesia bagian timur juga mempunyai kemiripan dengan hewan yang hidup di Australia seperti kangguru, burung Cendrawasih, dan masih banyak lagi yang mirip. Saat melihat fakta-fakta yang ada saat ini kami menyimpulkan bahwa akibat dari Zaman glasial dapat mempengaruhi persebaran fauna di dunia. Saat zaman glasial terjadi, Di daerah tropika zaman glacial ini berupa zaman hujan (zaman pluvial) yang diseling dengan zaman kering (interpluvial). Pada saat itu Indonesia juga mengalami zaman pluvial atau zaman hujan karena Indonesia juga berada pada daerah tropika. Hampir setiap hari Indonesia mengalami hujan yang mengakibatkan banyaknya hutan-hutan hujan di Indonesia dan daerah tropika yang lainnya. Contoh di Indonesia adalah terdapat pada kalimantan.
Di kalimantan banyak sekali hutan hujan tropis yang pohon-pohonya bisa mencapai 20-40 meter. Itu yang menyebabkan adanya kemiripan flora antara Indonesia dengan daerah tropika yang lainnya. Zaman Interglasial adalah zaman ketika suhu di permukaan bumi kembali normal seperti biasa yang mengakibatkan es-es di permukaan bumi mencair dan kembali seperti dahulu kala. Pada saat zaman glasial banyak binatang yang sudah bermigrasi ke Indonesia barat dan timur.
Setelah terjadi zaman interglasial es-es yang telah menghubungkan ke antara Indonesia dengan Asia dan Australia kembali menjadi laut kembali, yaitu pada paparan sunda dan paparan sahul. Pada saat itu terjadi binatang-binatang yang sudah bermigrasi ke Indonesia tidak dapat kembali lagi ke daerah asalnya sehingga para binatang tersebut harus menetap di Indonesia. Jadi hal ini juga dapat di katakan termasuk penyebab persebaran fauna dan flora di dunia.
UNSUR PH
Unsur kadar kesamaan air (pH) menurut kami juga dapat masuk ke dalam salah satu penyebab persebaran fauna dan flora di dunia. Karena mahluk hidup dapat bertahan hidup dan hidup sesuai dengan kadar pH nya masing-masing. Ada yang dapat hidup jika kadar pH nya di atas 7 (garam), ada yang bisa hidup jika kadar pH nya di bawah 7 (asam), atau ada yang dapat hidup jika kadar garamnya netral yaitu 7 (basa). Sebagai contoh adalah berbagai jenis rawa. Jenis rawa dapat di bedakan menjadi dua yaitu:
1. Rawa yang airnya tidak mengalami pergantian.
Jenis rawa ini memiliki ciri kadar pH nya rendah di bawah 7 (asam / payau) yaitu sekitar 4,5. Dalam hal ini air tersebut tidak baik untuk mengairi tanaman sehingga sedikit sekali tumbuh-tumbuhan yang dapat hidup di daerah ini. Selain tumbuhan yang tidak dapat hidup, hewan juga tidak dapat hidup di tempat ini. Yang dapat hidup di tempat ini adalah tanaman gambut yang berada di bagian dasar rawa yang sagat tebal serta rumput- rumput liar yang hidup di tepi rawa.
2. Rawa yang airnya selalu mengalami pergantian.
Jenis rawa ini mempunyai ciri airnya tidak terlalu asam. Karena tidak terlalu asam maka banyak tumbuhan serta hewan-hewan yang dapat hidup di rawa tersebut, seperti cacing tanah, ikan, eceng gondok, pohon rumbia. Selain itu rawa ini juga dapat di jadikan tempat pertanian.
Karena hewan dan tumbuhan mempunyai kadar pH yang berbeda-beda untuk hidup, maka kehidupanya tersebar di mana-mana tergantung apakah kadar pH di suatu tempat cocok untuk tumbuhan serta hewan-hewan tersebut dapat hidup. Maka dari itulah kadar pH juga dapat mempengaruhi persebaran flora dan fauna.
APAKAH SIKLUS GLASIAL-INTERGLASIAL TERUS TERJADI DAN MUNGKINKAH ZAMAN GLASIAL TERJADI KEMBALI?
Menurut hipotesis hasil penelitian para ahli, jawabannya adalah ‘Ya’. Menurut penelitian siklus itu terus terjadi dan tetap ada hingga saat ini. Siklus telah berlangsung selama 5 kali, yaitu 1,6 juta tahun lalu, 900 ribu tahun lalu, 600 ribu tahun lalu, 200 ribu tahun lalu, 19 ribu tahun lalu. Setiap periode berlangsung selama 5000-20.000 tahun lalu digantikan dengan zaman interglasial selama 50-500 ribu tahun. Hal ini ditunjang dengan berbagai macam perubahan yang terjadi di bumi dan di planet lain. Perubahan iklim yang terjadi menyebabkan iklim tak dapat diprediksi lagi. Hal ini memungkinkan terjadinya lagi zaman es karena perubahan suhu dan iklim tersebut. Bukti-bukti hal ini adalah : 1) Pada tahun 2007, Colorado pernah mengalami badai salju terburuk. Badai ini menimbun salju setebal ± 35 cm dan badai itu terus berlangsung selama beberapa hari. 2) Pada akhir tahun 2008, daratan Greenland dan lautan Arkti sempat mendekati titik terdinginnya, yaitu sekitar -75o C. Hanya benua antartika yang tidak mampu mendinginkan suhunya karena lubang ozon sebesar kota New York ada di atas Antartika, menyebabkan radiasi matahari secara penuh masuk ke daerah itu.
APA PENGARUH ZAMAN GLASIAL DAN INTERGLASIAL TERHADAP PERKEMBANGAN DAN PERSEBARAN MANUSIA?
Pada zaman Glasial, manusia hidup dari golongan Homo Erectus, yang terkenal dengan jiwa penjelajahannya. Salah satu faktor penjelajahan Homo ini adalah kelangkaan makanan. Hal ini karena banyak mahkluk hidup yang mati dan membeku pada masa glacial pertama dan kedua. Pada zaman glacial pertama HE masih cukup kuat untuk menjelajah. Pada masa ini, Eropa, Afrika, Australia dan Asia disatukan oleh lautan es yang tebal, sehingga membentuk daratan yang dinamai Donau. Sedangkan Amerika, Greenland dan kep. Karibia yang terselimuti oleh es terbentuk daratan yang dinamai Nebraskan. Hal ini memungkinkan HE berpindah ke berbagai penjuru bumi. Faktor lain yang menyebabkan mereka berpindah adalah usaha mencari tempat yang lebih hangat agar dapat memperoleh makanan. Hal ini dikarenakan oleh sumber makanan banyak tumbuh di daerah yang hangat.
Pada periode kedua glacial pembagian benua es masih sama, namun lautan yang membeku lebih luas. Nama mereka adalah Gunz untuk wilayah Eurasia dan sekitarnya dan Kansan untuk Amerika dan sekitarnya. Sayangnya, api mengemisikan karbon dioksida lebih banyak. Diperkirakan, bila zaman es terjadi lagi, keadaan akan jauh lebih buruk dari zaman es sebelumnya.
Kepunahan populasi HE terjadi pada peralihan zaman glacial kedua ke zaman interglacial kedua. Homo ini punah karena tidak mampu beradaptasi lagi dengan kondisi menghangatnya bumi. Kemudian jumlah populasi HE menyurut sehingga menciptakan spesies baru yang disebut Homo Neandhertalensis.
PERISTIWA GLASIAL-INTERGLASIAL
Nama glasialisasi/interglasialisasi
Glasial atau Interglasial
Periode (ribu tahun lalu)
Alpine
N. Amerika
N. Eropa
Inggris
S. Amerika



Bramertonian

Interglasial
1550-1300



Baventian

Glasial
1300-800



Pastonian

Interglasial
800-680
Günz
Nebraskan
Menapian
Caracol
Glasial
680-620
Günz-Mindel
Aftonian

Cromenian

Interglasial
620-455
Mindel
Kansan
Elsterian
Anglian
Rio Llico
Glasial
455-380
Mindel-Riss
Yarmouth
Holstein

Interglasial
380-200
Riss
Illinoian
Saale
Wolstonian
Santa Maria
Glasial
200-130
Riss-Würm
Sangamonian
Eemian
Ipswichnian

Interglasial
130-110
Würm
Wisconsin
Weichsel
Lianquihue
Glasial
110-12

Kumpulan Kata Bijak Tentang Kegagalan

Kesuksesan dan kegagalan bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan. Semua orang ingin sukses, namun sayangnya tidak semua orang berani membayar harganya dengan kegagalan.


Kita semua pernah gagal dalam hidup ini. Namun apa maknanya? Perbedaan utama antara orang yang benar-benar sukses dan gagal adalah sikap mereka menghadapi kegagalannya. Bagaimana sebenarnya sikap kita menghadapi kegagalan?

Inilah 10 kata bijak dari para tokoh tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi kegagalan :

1. "Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan."
-- John F. Kennedy. --

2. "Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang datang bertubi-tubi."
-- Orison Swett Marden --

3. "Kebanggan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali ketika kita jatuh."
-- Confusius --

4. "Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah."
-- Thomas Alva Edison --

5. "Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni, orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir."
-- W.A. Nance --

6. "Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat."
-- Winston Chuchill --

7. "Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras, dan mau belajar dari kegagalan."
-- General Colin Powell --

8. "Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua, yaitu mereka yang berpikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak pernah memikirkannya."
-- John Charles Salak --

9. "Kegagalan adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan; tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa dan tidak menjadi apa-apa."
-- Denis Waitley --

10. "Kegagalan adalah satu-satunya kesempatan untk memulai lagi dengan lebih cerdik."
-- Henry Ford --

Jelas sudah bahwa tidak ada orang yang gagal namun yang ada adalah orang yang berpikir dirinya gagal. Gagal bukanlah satu kesalahan, kegagalan hanyalah sebuah proses menuju kesuksesan yang lebih besar. Sukses untuk kita semua!

Sabtu, 23 April 2011

WILAYAH FISIOGRAFI JAWA DAN MADURA

       Garis besar fisiografi Pulau Jawa pernah dibahas oleh Pannekoek. Kemudian dalam usahanya membahas penduduk Pulau Jawa, Horstmann dan Rutz mengaitkan pemusatan-pemusatan penduduk dengan bentuk medan atau fisiografi.
       Bahasan tentang fisiografi dalam karangan ini, sedikit banyak didasari oleh kedua usaha di atas, meskipun ada beberapa perbedaan yang maksudnya untuk lebih memperinci.
       Ada empat unsur utama sebagai bentuklahan Pulau Jawa, yaitu:
Wilayah Lipatan tertier Selatan, dengan dataran-dataran rendah yang tercakup di antaranya.
Wilayah pegunungan Tengah, yang sebenarnya adalah sebuah depresi, tetapi karena tutupan bahan volkanik, wilayah ini menjadi tinggi.
Wilayah Lipatan Utara dengan berbagai bentuk antaranya.
Wilayah Dataran Aluvial yang terutama terdapat di pesisir Jawa Barat.

       Di antara wilayah-wilayah fisiografi secara garis besar itu, terdapat bentuk-bentuk medan yang berbeda dengan bentuk umum wilayah yang bersangkutan, seperti misalnya Dataran Rendah Grajangan, Sukamade Lumajang di Wilayah Lipatan Selatan Jawa Timur. Dataran Rendah Kedu Selatan dan Lembah Serayu, Lembag Citandui di Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian timur. Dataran rendah yang luas-luas terdapat di daerah pedalaman Jawa Timur. Dataran rendah tidak nampak di pedalaman Jawa Barat. Tetapi sebaliknya dataran rendah yang luas terdapat di bagian utara Jawa Barat, sedangkan di Utara Jawa Tengah dataran rendah utaranya sempit.
       Di bagian timur Jawa Tengah dan di bagian utara Jawa Timur, dataran yang nampaknya rendah itu sebenarnya adalah sinklinorium atau jejeran beberapa sinklinal dari Wilayah Lipatan Utara, yang di kedua daerah itu sampai ke pantai dan malahan sampai ke Madura. Di Jawa Barat sebagian wilayah Lipatan Utara itu tertutup oleh bahan volkanik seperti  bentuk “alluvial fan” G. Salak dan G. Gede antara Jakarta – Bogor dan endapan volkanik Tangkuban Perahu di daerah Subang.
       Seperti telah dibahas oleh Horstmann dan Rutz, kaitan pemusatan penduduk dengan fisiografi memang erat, meskipun kesuburan tanah mungkin sedikit berbeda antara fisiografi yang sama, tetapi letaknya lain. Nampak, bahwa lereng lebih penting daripada tingkat kesuburan, dalam usaha pemanfaatan tanah.

Kenangan Abadi Teleskop Astronomi

Berbicara masalah ilmu planet perbintangan (astronomi), tidak bisa dipisahkan dari sejarah kemunculan ahli astronomi terkenal Galileo Galilei. Ilmuwan kebangsaan Italia ini menemukan alat teropong khusus yang bisa mengamati planet, bintang-bintang di angkasa dari atas bumi. Alat ini disebut dengan teleskop, suatu teropong pengamatan jarak jauh, yang pertamakali diperkenalkannya pada tanggal 25 Agustus 1609, sekitar 400 tahun yang lalu. Berikut profil ringkasnya yang disadur dan diterjemahkan secara bebas dari sumber aslinya : www.en.wikipidea.org/galileo galilei
Galileo Galilei, membuatGalileo suatu teropong bintang dengan tiga kali perbesaran yang didasarkan pada uraian teropong bintang praktis pertama kali yang ditemukan oleh Hans Lippershey di Netherlands. Teropong ini kemudian ditingkatkan kemampuannya sampai sekitar 30x kekuatan jangkauan pandangan. Dengan ditingkatkannya kemampuan jangkuannya, teleskop ini bisa melihat perbesar, tegak lurus suatu gambaran dari atas bumi, sehingga alat itu kini dikenal juga sebagai suatu teropong santir tegak atau keker. Alat ini dapat juga digunakan untuk mengamati suasana bintang-bintang di langit. Pada tanggal 25 Agustus 1609, ia mempertunjukkan hasil temuan teropong bintangnya yang pertama kalinya ke pembuat undang-undang Venesia, Italia. Teropong bintangnya mendapatkan hasil sampingan menguntungkan karena bisa dijual ke saudagar yang sering melaut, sebagai pedoman berpetualang mengitari samudera. Ia menerbitkan inisial asli pengamatan astronomi teleskopis tersebut pada bulan Maret 1610, dalam suatu risalah ringkas berjudul Sidereus Nuncius (Pembawa Pesan Bintang).
Pada tanggal 7 Januari 1610 Galileo mengamati dengan teropong bintangnya apa yang ia uraikan sebagai ” tiga bintang tetap” berukuran sangat kecil, semua terletak berdekatan dengan planet Jupiter, dan berbaris dalam suatu garis lurus. Pengamatan pada malam yang berikut menunjukkan bahwa posisi ” bintang tersebut” berhubungan dengan Jupiter, seakan sebagai bintang tetapnya. Pada tanggal 10 Januari 1610, Galileo mencatat bahwa salah satu bintangnya telah menghilang, kemungkinan tersembunyi di belakang planet Jupiter. Dalam beberapa hari ia menyimpulkan bahwa mereka sedang berada dalam orbit Jupiter. Ia telah menemukan sebanyak tiga dari empat satelit paling besar Jupiter’S dengan nama : Io, Europa, dan Callisto. Ia menemukan satelit yang keempat, dengan sebutan Ganymede, pada tanggal 13 Januari 1610. Galileo menamakan empat satelit yang ia telah temukan sebagai bintang Medicean, untuk menghormati masa depan pelindungnya. Keempat satelit itu kemudian dinamakan : COSIMO II de’ Medici, Grand Duke of Tuscany, dan Cassimo’s three brothers, oleh para ahli astronomi untuk menghormati jasa-jasa pengabdian keahlian Galileo Galilei.
BIODATA GALILEO GALILEI
Tempat, Tanggal Lahir : 15 February 1564, Pisa, Duchy of Florence, Italy
Portrait of Galileo Galilei by Giusto Sustermans
Meninggal: 8 January 1642 ( usia 77 tahun), Arcetri, Grand Duchy of Tuscany, Italy
Tempat Tinggal : Grand Duchy of Tuscany, Italy
Bidang Keahlian : Astronomi, Fisika and Matematika
Institusi : University of Pisa, University of Padua
Almamater : University of Pisa
Dikenal sebagai : Ahli Kinematics,
Pakar Dynamics, Penemu Telescopic observational astronomy, Teori Heliocentrisme.
Dalam ilmu astronomi, fisika, dan matematika, Galileo Galilei, telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilimu pengetahuan. Sampai akhir khayatnya beliau terus fokus pada keahliannya, hingga pada usia 77 tahun, Galileo meninggal karena serangan jantung setelah lama didera derita demam dan nyeri kronis. Jasa-jasanya selalu terkenang sepanjang masa, tercatat salam sejarah dunia. Sudahkah kita berkontribusi untuk kemajuan bersama dengan komitmen pada keahlian masing-masing dan tetap bertahan diantara rintangan dan tantangan.